Yati heran dengan perubahan sikap Yanto suaminya akhir-akhir ini. Yanto yang dikenalnya sebagai suami yang dingin dan sangat pendiam tiba-tiba berubah ramah, seolah ia kembali menjadi Yanto yang dikenalnya sebelum mereka menikah dulu. Bukan itu saja, ia dulu mengenal Yanto sebagai orang yang selalu terlambat melaksanakan shalat, bahkan tak jarang ia meninggalkannya. Kini lima menit [...]
Filed under: tulisan semeton | Ditandai: cerpen, politik | Tinggalkan sebuah Komentar »